Tampilkan postingan dengan label fateemafa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fateemafa. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 10, 2011

Pengakuan Turki Buat DEBU

KUNJUNGAN ke Turki kali ini menjadi agak lain sama sekali. Selain masanya yang cukup panjang - hampir satu bulan; 8 - 31 Agustus, juga karena konser-konser ini diorganisir langsung oleh sebuah komunitas Sufi. Dan karena kita tinggal agak lama, maka kita pun tak ditempatkan di hotel tetapi di sebuah apartemen di mana seluruh personil DEBU  bisa tinggal bersama dan berkomuni. Maka segala aktifitas menjadi lebih mudah, leluasa dan pribadi.


Dengan koneksi internet yang super 'sreset sebret' segala sesuatu menjadi lebih mudah lagi. Setiap orang yang punya keluarga atau orang-orang yang dirindui bisa tetap mempertahankan kecenderungan autistik nya karena bisa lebih banyak berinteraksi dengan pesawat seluler masing-masing. Sementara buatku, dengan koneksi yang super ini menjadi lebih terinspirasi untuk menulis banyak.


Dalam jadwal yang tercatat, sampai saat ini DEBU memiliki 11 konser yang harus dipenuhi. Konser malam pertama sudah dituntaskan. Itu adalah di sebuah festival Ramadan di daerah Güngören, sekitar 1 jam perjalanan dari Istanbul. Banyak musisi tampil di sana. Tetapi khusus malam itu, cuma DEBU dan sepasang penari 'whirling'. Layaknya pesta rakyat, sedari sore warga Güngören dan sekitarnya sudah berdatangan. Mereka bahkan sudah banyak muncul ketika DEBU masih cek 'sound system'. :)


Dan ketika panggung kosong tanpa aktifitas karena menunggu jam 'on' sesuai susunan acara,  warga tetap di tempatnya dan makin lama makin banyak. Berbagai usia seolah tumplek blek di sana. Malam-malam Ramadan bagi  masyarakat Turki umumnya adalah malam yang berkelanjutan dengan berbagai seni dan atraksi. Mereka begitu dimanjakan dengan seni pertunjukan yang diorganisir secara berkala oleh pemerintah dan kerap mendatangkan musisi berkualitas dari luar negara. Dan DEBU adalah salah satu group musik yang selalu diundang untuk mengisi festifal-festival ini selama beberapa tahun terakhir.


Jadi, popularitas DEBU di Turki sudah cukup menjadi garansi suksesnya acara atau setidaknya menjadi pengisi acara yang  dianggap sangat unik. DEBU telah menjadi ikon Indonesia di mata Turki ataupun di mata internasional umumnya. Lagu-lagu DEBU sangat disukai di sana. Ini bisa disebut sebagai sambutan yang luar biasa juga mengingat dalam hal kualitas musik, Turki  dikenal secara internasional sebagai pemilik musik yang sangat indah. Selain jenis musiknya yang luarbiasa, kemampuan vokal para penyanyi Turki adalah hal khusus yang tak bisa diragukan mengingat kualitas vokal mereka memang riil dan bukan hasil akal-akalan teknologi rekaman.

Dengan basis para musisi dan artis yang super kualified, mereka justeru begitu hangat menyapa DEBU bahkan mencintai musik dan syair-syair DEBU dan memujanya sebagai karya seni dan musik yang tak bisa diremehkan. Apalagi dengan mengutamakan syair dan lagu-lagu DEBU dalam bahasa Turki setiap kali tampil di depan rakyat Turki, membuat mereka merasa memiliki DEBU. 'Hep Beraber' dan 'Mustafa Gemisinde' adalah paling sering dikumandangkan Mustafa untuk menyapa rakyat Turki.  Hep Beraber, yang versi Indonesianya adalah 'Ucapkanlah Bersama', selalu ditepuki paling meriah karena mereka sangat senang dan setuju dengan ajakan ber-La ilah illa Allah. (*)


Ümraniye, İstanbul.

Senin, Maret 28, 2011

Dewi Sugina Mulyani SH;


SEJATINYA, memang cuma Allah saja yang menolong dan melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita. Tetapi dalam pengejawantahannya, Allah selalu mengirimkan hamba-hambaNya yang lain untuk memasuki kehidupan kita demi memudahkan kita dalam rangka menjalani  takdir kita sesuai sunatullah. Maka dalam kehidupan DEBU pun ada sosok Dewi Sugina Mulyani, SH yang banyak membantu komunitas DEBU dalam hal hukum dan advokasinya.


Pertama kali mengenal DEBU, konon melalui Jesse Laukon - mantan manajer DEBU.
"Waktu itu saya sedang di bandara dan siap pergi umroh. Mas Jesse ini menceritakan tentang DEBU dan permasalahan DEBU yang ingin menjadi WNI. Saya bilang, nanti deh kita bicara sepulang saya umroh," tutur Dewi, saat ditemui secara khusus di sebuah tempat rendevouz di kawasan Town Square. 

Akhirnya, singkat cerita... sepulang umroh, Notaris yang sudah cukup lama malang melintang di dunia notariat ini langsung mengatur pertemuan dengan Mustafa. "Sejak pertama melihat Mustafa saya langsung merasa nyaman saja. Saya biasanya 'kan pake feeling-feeling begitu ketika harus dekat dengan seseorang," ungkapnya dengan senyum tersipunya.


Gebrakan pertamanya yang menunjukkan keseriusan untuk membantu status DEBU dalam kewarganegaraan adalah dengan memfollow up langsung berbagai langkah dan prosedur yang selama ini telah ditempuh DEBU. Maka, kinerja cepatnya yang seolah berpacu dengan waktu segera memberikan hasil yang memuaskan. Kurang lebih sebulan kemudian, DEBU bahkan sudah hampir lengkap semua persyaratannya untuk menjadi WNI. Bahkan Saleem DEBU, karena menikah dengan perempuan Indonesia... maka prosesnya menjadi diistimewakan dan disetujui lebih dulu. Jadilah Saleem DEBU sekarang menjadi WNI dan baru satu-satunya di antara anggota DEBU.


Dalam busana santainya...
 "Bagaimanapun, kalo menikah dengan warga Indonesia ya lebih mudah memang..., " ungkapnya pula.


Sejauh ini, menurut Dewi, semua tahapan dan prosedur sudah finish dan hanya tinggal selangkah lagi, yakni menunggu tanda tangan atau pengesahan dari Presiden.


DEBU Layak Menjadi WNI
Dari berbagai sudut, menurut Dewi, DEBU sangat layak menjadi WNI. "Mereka sudah tinggal di sini hampir 10 tahun. Bisa bahasa Indonesia, juga sering membawa nama Indonesia di pentas internasional..."
 Walaupun, di lapangan sendiri, Dewi tak menafikan bahwa ada sekelompok petugas yang tetap merasa heran dan mempertanyakan keseriusan DEBU untuk menjadi WNI. Di mata kalangan tersebut, adalah hal yang aneh jika warga negara Amerika mau mengubah statusnya menjadi WNI. "Apa mereka benar mau mengubah statusnya? Mengubah kewarganegaraan Amerika menjadi WNI? Kenapa? "


Walaupun tanya itu itu sendiri bernada curiga, namun Dewi menepis sinyalemen tersebut. "Saya kira tak begitu. Kita warga timur tak memiliki kecurigaan seperti itu. Sebaliknya, sebenarnya kita senang dan bangga bahwa sekelompok orang ingin mengubah statusnya jadi WNI," cetusnya tertawa,


Berbincang akrab dengan Syekh Fattaah.
"Kan kita lihat sendiri, kalau DEBU ke kantor Imigrasi... para petugas malah minta foto bersama dengan Saleem, Mustafa dan lainnya. Jadi, penerimaan mereka terhadap DEBU ini sangat luar biasa," sanggahnya mengklarifikasi.
Masalahnya, menurut Dewi lagi, segala sesuatu harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup di lapangan. "Tak ada itu istilah dipersulit. Kuncinya adalah, mengetahui jalur yang tepat. Kalau kita mendaki gunung dan sudah tahu jalurnya, maka kita akan segera tiba di atas dengan cepat. Ini akan berbeda jika kita belum tahu dan baru membuka jalan baru. Pasti akan lama 'kan?" sanggahnya beranalogi. 


Bisa dikatakan bahwa keterlibatan Dewi Sugina Mulyani dalam proses kewarganegaraan DEBU menjadi WNI bukanlah sekedar bantuan profesi tetapi lebih pada tanggung jawab morilnya. Menjawab ini, ibu dari 3 putera puteri ini menjawab sambil tersenyum tulus, "Kalau saya bisa membantu, kenapa tidak?".


Hmmm... jawaban yang sangat singkat tetapi sangat transparan dalam penjelasan! :)))

Bersama DEBU di Kantor Imigrasi Bandung.