Jumat, Februari 05, 2010

Doa Buat Najib Ali




Ini adalah sebuah doa buat Najib Ali.

Dalam beberapa bulan terakhir tiba-tiba saja Najib, mantan Manajer DEBU, ambruk kesehatannya. Padahal, di kalangan komunitas, Najib dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dalam menjaga kebugarannya. Ia sangat protektif terhadap kondisi tubuhnya dan hampir tak pernah mengemil makanan yang tak jelas 'ingredients'nya.

Acap kali saya sedang santai menikmati bakso langganan saya di kompleks kediaman dan menawarinya... ia akan menjawab sambil tertawa lebar, "Bakso? No. Saya tak suka bakso. Itu bukan makanan yang sehat..." ^=*


Najib bersama Syekh Fattaah dan Syekh Hamza Ali.
Najib juga seorang pelopor yang aktif pergi ke gym pada saat yang lain masih asyik dengan jam santainya. Lebih dari itu, ia sangat perduli dengan konsumsi gizi seimbang dan ketat dengan dietnya. Maka... kabar sakitnya Najib akhir-akhir ini... tentu saja membuat komunitas merasa agak berat dan haru.

Bagaimana pun ia seorang aktifis yang menghabiskan banyak waktunya untuk membantu anak-anak di kelasnya. Ia adalah tenaga pengajar utama yang bertanggung jawab dalam beberapa kelas Home Schooling di komunitas. Ia juga pakar komputer yang pengetahuannya banyak diaplikasikan dalam membantu berbagai keluhan penghuni komunitas tentang software dan hardware.

Di balik sosoknya yang tinggi besar, ia adalah seorang yang tulus dan juhud. Syekh Fattaah sendiri selalu memuji kejuhudannya. Begitu juhudnya seorang Najib, ia bahkan bisa minum kopi tanpa diseduh lebih dulu. Maksudnya, ia bisa memasukkan sesendok kopi dan gula langsung ke mulutnya kemudian minum air bersamanya... maka jadilah kopi ala Najib. Ia bilang, "'Kan rasanya sama saja setelah di dalam mulut... " ^=^

Dan dalam keadaan sakitnya sekarang pun, ia hampir tak terlihat sebagai seorang sakit. Wajahnya tetap riang dan bisa tersenyum bahkan tertawa. Satu-satunya yang memberitahu orang tentang sakitnya adalah... sebuah slang atau pipa yang tertempel di leher kanannya yang kini dipindah tempatkan ke pergelangan tangan sebagai tempat khusus pemeriksaan darahnya. Tetapi, adakalanya ia pun tak bisa bergerak sama sekali dan tak bisa bangun dari pembaringannya.

"Najib memang sakit. Betul betul sakit. Sebelum ini dia tak pernah mengeluh apapun, tetapi sekarang dia mengakui bahwa dirinya sungguh merasa sakit," ungkap Syekh Fattaah.



Najib bersama muridnya di komunitas dulu.

Saat ini Najib tak lagi bisa melakukan beberapa aktifitas yang dulu disukainya. Ke gym ? Tak bisa. Jogging ? Tak lagi. Tetapi ia masih seorang yang bersemangat dan istiqomah dengan kelas home schooling. Ia masih mengajar matematika dan bahasa Inggris buat anak-anak.

Tetapi, sakit apakah sebenarnya Najib ?

Konon, ia menderita lemah ginjal. Tetapi, ada pula dokter yang mensinyalirnya sebagai asam urat dan anemia. Tetapi khusus ginjalnya... kini sudah menjadi vonis baginya bahwa ia harus membuang kedua ginjalnya karena kondisinya sudah rusak. Dengan sendirinya ia harus melakukan transflantasi ginjal. Ini berarti Najib membutuhkan seorang donor yang rela memberikan sebuah ginjal padanya. Sejauh ini sudah ada beberapa yang menawarkan diri tetapi setelah dilakukan beberapa tes ternyata tak memenuhi kualifikasi. Dan seandainya pengangakatan ginjal tak dilakukan, maka... sebagaimana dokter pemeriksanya menganalisis... maka Najib akan tetap tertawan dalam rutinitas pemeriksaan seumur hidupnya. Dua kali seminggu melakukan pencucian darah tanpa ada harapan perbaikan kecuali mempertahankannya saja.

Logikanya, kehidupan Najib tergantung pada sukses tidaknya operasi dan pencangkokan atau tranflantasi ginjal baru. Tetapi kita percaya bahwa Allah selalu memiliki rencana yang tak bisa diduga oleh kita sebagai hamba. Semoga Allah senantiasa mempermudah segala sesuatu buat Najib ALi, sebagaimana ia selalu berusaha tulus pada orang lain... dan semoga amal-amal kebaikannya menjadi sebuah sarana tawasul yang akan menolong Najib dalam setiap hal...***